Bismillah...
Ramadhan memang selalu punya cara unik untuk mengajarkan sesuatu. Kadang lewat rasa lapar. Kadang lewat tenggorokan yang mulai serak. Kadang bahkan lewat es cendol yang tak jadi dibeli.
Hari ke-8 Ramadhan dimulai dari cerita dua hari sebelumnya.
Waktu itu anak-anak minta dibelikan es cendol untuk berbuka. Cuaca panas, tenggorokan kering, dan bayangan santan dingin bercampur gula merah memang terasa sangat menggoda.
Tapi ketika saya buka aplikasi untuk memesan, lapaknya tutup.
“Yaahhh…” dua suara kecewa terdengar bersamaan.
Akhirnya kami sepakat, “Besok saja ya.”
Dan begitulah, es cendol masuk daftar rencana.
Ramadhan Hari ke-8: Es Cendol yang Tertunda Demi Tenggorokan Abang
Keesokan harinya, obrolan tentang es cendol muncul lagi menjelang asar.
“Ma, jadi beli hari ini?” tanya si bungsu penuh harap.
Sebelum saya menjawab, si sulung angkat suara.
“Jangan dulu deh. Tenggorokan aku mulai nggak enak.”
Saya langsung menoleh. “Serius?”
“Belum sakit banget sih, tapi kayak mau serak.”
Sebagai ibu, radar kesehatan langsung menyala. Minuman dingin dan tenggorokan tidak enak adalah kombinasi yang berbahaya.
Saya tidak ingin memutuskan sepihak.
“Coba kalian diskusi berdua,” kata saya. “Boleh nggak es cendolnya ditunda sampai Abang enakan?”
Mereka saling menatap.
Dua anak laki-laki berdiskusi soal minuman berbuka dengan wajah serius adalah pemandangan yang cukup menggemaskan.
Si bungsu akhirnya berkata pelan, “Yaudah deh, ditunda aja. Nanti kalau Abang sakit, nggak seru.”
Saya hampir tersentuh.
Anak yang paling semangat soal minuman manis, justru yang pertama mengalah.
Si sulung menepuk bahunya. “Makasih, Dek.”
Es cendol pun resmi ditunda.
Belajar Mengalah dan Mencari Alternatif
Tapi tentu saja, Ramadhan tanpa minuman manis saat berbuka terasa kurang lengkap bagi anak-anak.
Sorenya si bungsu datang lagi dengan ide baru.
“Ma, kalau bukan es cendol… boleh nggak beli es teler yang dijual Bu Ida tetangga depan?”
Saya tertawa. Kreatif sekali mencari jalan tengah.
Es teler itu tidak terlalu dingin karena baru dibuat menjelang maghrib. Dan jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah.
“Boleh,” jawab saya.
Wajahnya langsung cerah.
Kadang kebahagiaan anak-anak sesederhana semangkuk es teler dalam wadah plastik.
Dan saya belajar satu hal hari itu: menunda bukan berarti kehilangan. Kadang hanya berarti menunggu waktu yang lebih tepat.
Tarawih di Rumah Karena Badan Kurang Fit
Malamnya, si sulung kembali mendekat.
“Ma, abang dan Mama tarawih di rumah dulu boleh? Tenggorokan masih nggak enak.”
Biasanya mereka tarawih bersama ayahnya di mushola belakang rumah atau safari masjid yang ada ACnya dan ceramah lucunya. Tapi malam itu kami sepakat untuk lebih berhati-hati.
“Ya sudah, kita tarawih di rumah.”
Akhirnya malam itu saya dan si sulung tarawih di rumah. Si bungsu tetap berangkat ke mushola bersama ayahnya.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Sayup-sayup terdengar suara imam dari pengeras suara mushola. Hanya suara mesin pendingin ruangan dan bacaan pelan dari dalam kamar.
Tapi anehnya, suasananya tetap hangat.
Ada rasa bangga melihat anak remaja mulai belajar mengenali kondisi tubuhnya sendiri dan memilih istirahat daripada memaksakan diri.
Ramadhan Hari ke-9: Saat Ibu Ikut Tumbang
Ternyata, cerita belum selesai.
Di hari ke-9 Ramadhan, giliran saya yang mulai tidak enak badan.
Hidung mampet. Bersin-bersin. Wajah terasa panas. Badan pegal.
Saya tahu penyebabnya.
Biasanya setelah sahur dan sholat Subuh, saya langsung menyelesaikan setrikaan, beberes, dan belanja bahan masak. Sekitar jam 10 pagi saya tidur sebentar. Setelah Dzuhur, ritme melambat. Santai. Cek email. Cek blog. Ngobrol dengan anak-anak.
Tapi kemarin saya ubah jadwal.
Setrikaan baru saya kerjakan setelah Dzuhur. Lalu lanjut masak sore.
Hasilnya? Tubuh protes.
“Ini namanya salah set,” gumam saya.
Ternyata tubuh punya ritme sendiri. Dan ketika kita mengubahnya sembarangan, dia memberi peringatan.
Tarawih Bertiga di Rumah dan Hangatnya Kebersamaan
Menjelang malam, saya memutuskan untuk tidak ke mushola.
“Sebaiknya Mama tarawih di rumah lagi saja. Takutnya kalau flu, jamaah lain tertular.”
Saya kira anak-anak tetap akan berangkat bersama ayahnya.
Ternyata tidak.
“Kami juga tarawih di rumah aja, Ma,” kata si bungsu.
“Iya, nemenin Mama,” tambah si sulung santai.
Saya terdiam.
“Serius? Nggak apa-apa nggak ke mushola?”
“Nggak apa-apa.”
Akhirnya ayahnya berangkat sendiri ke mushola.
Dan kami bertiga di rumah.
Dan kami tidak sholat berjamaah. Masing-masing sholat sendiri-sendiri di kamar atau ruang masing-masing.
Rumah terasa tenang.
Selesai tarawih, si bungsu mendekat.
“Ma, minum yang hangat ya.”
Dari dapur terdengar suara si sulung, “Airnya udah aku angetin.”
Anak-anak yang kemarin ribut soal es cendol, malam itu sibuk memastikan ibunya minum hangat.
Saya duduk di sofa dengan hidung mampet, tapi hati hangat.
“Terima kasih ya udah nemenin Mama.”
Si sulung menjawab ringan, “Ya masa Mama sendirian.”
Si bungsu menambahkan, “Besok kalau Mama sembuh, kita ke mushola lagi.”
Sederhana sekali kalimatnya.
Tapi rasanya dalam.
Manis yang Lebih Tahan Lama dari Es Cendol
Sampai hari ini, es cendol itu belum juga terbeli.
Mungkin nanti.
Mungkin juga tidak.
Tapi saya sadar, yang sebenarnya sedang tumbuh di rumah ini bukan hanya kesabaran menahan minum dingin.
Yang tumbuh adalah empati.
Yang tumbuh adalah kepedulian.
Yang tumbuh adalah kebiasaan saling menjaga.
Ramadhan hari ke-8 dan 9 ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang jadi dibeli.
Kadang justru hadir dari sesuatu yang ditunda.
Dari anak yang rela mengalah demi abangnya.
Dari abang yang belajar menjaga kesehatannya.
Dari anak-anak yang memilih tinggal di rumah demi menemani ibunya.
Ramadhan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang tarawih berpindah dari mushola ke ruang tamu. Kadang minuman dingin berganti air hangat.
Tapi justru di perubahan-perubahan kecil itu, hati kami terasa lebih dekat.
Dan mungkin, itulah manis yang lebih tahan lama daripada segelas es cendol.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar