Parenting Blogger Medan: Dulu Aku yang Dibangunkan Sahur, Kini Aku yang Membangunkan - Ramadhan dan Perjalanan Ibu Membesarkan Remaja


Bismillah... 

Ramadhan selalu punya cara untuk membuat seorang ibu merenung.
Terutama ketika kita sedang berdiri di depan kamar anak, mengetuk pintu pelan sambil berkata, “Bangun… sahur…”

Dan tiba-tiba tersadar—dulu, suara itu bukan suara kita.

Dulu, kita yang dibangunkan.
Sekarang, kita yang membangunkan.

Begitulah siklus kehidupan berjalan. Diam-diam. Pelan-pelan. Tanpa aba-aba.

Dan entah kenapa, membangunkan sahur anak laki-laki, terutama yang sudah remaja, selalu punya cerita sendiri.


🌸 Dulu: Aku yang Susah Bangun

Waktu kecil dulu, aku juga bukan tipe anak yang langsung sigap saat dibangunkan sahur.

Ibuku biasanya sudah bangun lebih dulu. Suara piring beradu di dapur jadi alarm alami. Lalu terdengar langkah kaki mendekat ke kamar.

“Kakak… sahur…”

Jawabanku hampir selalu sama.

“Iyaaa…”

Tapi tidak bangun.

Lima menit kemudian.

“Kak… nanti imsak…”

“Iyaaa…”

Masih tidak bangun.

Sampai akhirnya selimut ditarik.

Dan sekarang… karma itu datang dengan versi yang lebih canggih.

Karena anak remajaku bukan cuma punya selimut. Dia punya bantal empuk, guling panjang, suhu kamar yang nyaman dan kemampuan pura-pura tidak dengar yang levelnya sudah profesional.


⏱️ Sekarang: Aku yang Jadi Alarm Berjalan

Jam 03.15.

Aku sudah bangun. Kadang dengan mata setengah terbuka. Kadang sambil menenangkan lambung karena maag tidak terlalu ramah saat dini hari. Tapi tetap, sahur harus jalan.

Setelah memastikan nasi hangat, lauk siap, dan air minum tersedia, aku menuju kamar anak-anak.

Anak sulungku, remaja laki-laki yang tingginya hampir menyamai ayahnya, tidur dengan pose seperti habis lari maraton.

“Bang… bangun sahur…”

Tidak ada respon.
Aku coba lagi, sedikit lebih tegas.

“Abang… sahur…”

Dia menggeliat.

“Hmm…”

Lalu… diam lagi.

Di kamar sebelah, adiknya yang masih SD biasanya lebih responsif.

“Udah imsak belum?”

Itu pertanyaan pertama.
Padahal bangun pun belum.

Parenting remaja laki-laki saat Ramadhan memang unik. Yang kecil semangatnya seperti mau lomba. Yang besar semangatnya tergantung suhu ruangan dan kualitas tidur semalam.


⏰ Drama Lima Menit Lagi

Ada satu kalimat yang menjadi legenda setiap sahur:

“Lima menit lagi…”

Kalimat itu diucapkan dengan suara berat penuh pengorbanan, seolah-olah lima menit itu adalah hak asasi yang tidak boleh diganggu.

Masalahnya, lima menit versi remaja laki-laki bisa berubah menjadi dua puluh menit.

Aku pernah mencoba strategi lembut.

“Nanti ketinggalan sahur, lho…”

Jawabannya tenang.

“Nggak apa-apa.”

Sebagai ibu, kalimat itu langsung bikin jantung sedikit bergetar.

Karena kita tahu, kalau tidak sahur, siangnya bisa jadi penuh drama.

Lapar.

Haus.

Sensitif.


💕 Antara Bangga dan Khawatir

Meski begitu, ada satu hal yang selalu membuat hatiku hangat.

Mereka tetap puasa.

Mereka tetap ikut sahur.

Walaupun kadang setengah sadar.

Walaupun kadang sambil merem.

Anak remajaku mungkin belum sempurna. Tugas sekolah kadang dicuekin. Ceramah tarawih kadang tidak dicatat. Tapi dia tetap duduk di meja makan sahur bersama kami.
Dan itu bukan hal kecil.

Dalam perjalanan membesarkan anak laki-laki, aku belajar satu hal:
Kita tidak selalu bisa menuntut kesempurnaan. Tapi kita bisa menghargai proses.


🍽 Sahur Itu Lebih dari Sekadar Makan

Kalau dipikir-pikir, sahur bukan cuma tentang nasi dan lauk.

Sahur adalah momen kebersamaan paling hening dalam keluarga.

Di luar sana masih gelap. Tetangga pun belum tentu bangun. Dunia terasa lebih pelan.

Kami duduk di meja makan.

Si kecil biasanya mulai cerita tentang sekolahnya.

“Besok aku ada tugas hafalan…”

Si sulung kadang cuma mengangguk sambil makan.

Ayahnya menyelipkan nasihat singkat.
“Puasa itu bukan cuma nahan lapar.”

Kadang obrolannya ringan.

Kadang serius.

Kadang diselingi candaan.

Pernah suatu sahur, si sulung berkata dengan wajah datar,

“Ma, sahur itu sebenarnya yang penting niatnya, kan?”

Aku langsung waspada.

“Iya, tapi tetap makan.”

“Oh… kirain bisa niat aja.”

Anak remaja memang kreatif mencari celah.


🎈 Perjalanan yang Tidak Terasa

Yang membuatku terharu bukan hanya momen sahur itu sendiri.

Tapi kesadaran bahwa waktu berjalan sangat cepat.

Dulu aku yang duduk di kursi itu sebagai anak.

Sekarang aku di posisi ibu.

Dulu aku yang mengantuk dan kesal dibangunkan.

Sekarang aku yang mengetuk pintu dengan sabar.

Dulu aku yang disiapkan makanan.

Sekarang aku yang memastikan lauknya cukup untuk dua anak laki-laki yang nafsu makannya seperti atlet.

Perjalanan ini terasa biasa saat dijalani.
Tapi saat direnungkan, ternyata luar biasa.


✳️ Parenting Remaja Laki-Laki di Bulan Ramadhan

Banyak yang bilang, membesarkan remaja laki-laki itu menantang.

Aku setuju.

Karena mereka sedang berada di fase mencari jati diri. Mood bisa berubah cepat. Semangat ibadah kadang naik turun. Antusiasme kadang tergantung suasana.

Tapi Ramadhan punya peran istimewa.

Di bulan ini, aku melihat sisi lembut mereka.

Si sulung mungkin terlihat santai, tapi dia tetap berangkat tarawih bersama ayahnya.

Si kecil mungkin cerewet, tapi dia rajin mencatat ceramah (walau kadang lupa bawa buku).

Ramadhan seperti mengingatkan bahwa di balik gaya cool mereka, ada hati yang sedang belajar.

Dan tugas kita sebagai orang tua bukan memaksa, tapi mendampingi.


🌼 Lelah yang Manis

Jujur saja, bangun sahur setiap hari itu tidak mudah.

Ada hari-hari ketika badan terasa berat.

Ada malam ketika tidur terlambat.

Ada momen ketika ingin sekali berkata, “Hari ini nggak usah sahur saja.”

Tapi lalu aku melihat dua anak laki-lakiku duduk di meja makan.

Masih setengah mengantuk.

Masih dengan rambut acak-acakan.

Dan tiba-tiba lelah itu terasa manis.

Karena aku tahu, suatu hari nanti momen ini akan berubah.

Suatu hari nanti mungkin mereka sahur di tempat lain.

Di kota lain.

Di rumah mereka sendiri.

Dan mungkin aku akan merindukan suara,

“Lima menit lagi…”


📌 Humor-Humor Kecil di Meja Sahur

Ada juga momen-momen lucu yang tidak akan tergantikan.

Pernah si kecil bertanya serius,
“Ma, kalau sahurnya kebanyakan, puasanya lebih kuat nggak?”

Si sulung langsung menyahut,
“Berarti kamu harus makan satu panci.”

Si kecil melotot.

Aku hampir tersedak menahan tawa.

Atau ketika si sulung dengan wajah bijak berkata,
“Puasa itu melatih kesabaran.”

Lima jam kemudian dia protes,
“Ma, jam berapa buka sih?”

Begitulah remaja laki-laki.

Teorinya mantap.

Praktiknya masih proses.

Dan itu tidak apa-apa.


🌹 Dari Anak Menjadi Ayah?

Kadang aku memperhatikan cara ayah mereka membangunkan sahur.
Nada suaranya mirip sekali dengan nada suara kakek mereka dulu.

Tenang.

Tidak marah.

Tidak berteriak.

Aku tersenyum sendiri.

Siklus itu berulang.

Anak yang dulu dibangunkan, kini membangunkan.

Dan mungkin suatu hari nanti, anak laki-lakiku akan melakukan hal yang sama pada anaknya.
Membangunkan sahur.
Mengetuk pintu pelan.
Mengucapkan kalimat yang sama.
“Bangun… sahur…”
Dan mungkin saat itu dia akan mengerti,
Betapa sabarnya seorang ibu dulu.


❤ Ramadhan dan Pelajaran Tentang Waktu

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus.

Ramadhan adalah tentang waktu.

Tentang kesempatan.

Tentang kebersamaan yang mungkin tidak selalu ada.

Membangunkan sahur anak remaja mungkin terlihat sederhana.

Tapi di situlah ada cinta.

Ada doa yang tidak terucap.

Ada harapan agar mereka tumbuh menjadi lelaki yang bertanggung jawab.

Lelaki yang tahu arti bangun lebih awal.

Lelaki yang tahu arti usaha.

Lelaki yang tahu arti kebersamaan.


📎 Kini Aku Mengerti

Sekarang aku mengerti kenapa ibuku dulu tidak pernah terlihat kesal saat membangunkanku sahur.

Mungkin dia juga lelah.

Mungkin dia juga mengantuk.

Tapi cinta membuatnya tetap mengetuk pintu kamarku.

Dan kini, aku melakukan hal yang sama.

Untuk dua anak laki-lakiku.

Dengan segala drama lima menit lagi.

Dengan segala candaan di meja makan.

Dengan segala rasa haru yang datang diam-diam.

Karena suatu hari nanti, ketika mereka sudah besar sepenuhnya, mungkin yang tersisa hanyalah kenangan.

Kenangan tentang Ramadhan.

Tentang sahur.

Tentang ibu yang setia membangunkan.

Dan tentang perjalanan panjang membesarkan remaja laki-laki yang ternyata… tumbuh terlalu cepat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar