Parenting Blogger Medan: Ramadhan Hari ke-22 dan 23: Jumatan Berdua, Motor Mogok, dan Mie Instan Penyelamat Sahur

Bismillah


Ramadhan hari ke-22.

Hari Jumat.

Hari yang biasanya terasa lebih “lengkap” di rumah kami, karena ada satu agenda rutin: anak-anak sholat Jumat bersama ayahnya.

Tapi hari itu berbeda.

Ayahnya sudah dua hari dinas ke luar kota.

Artinya, untuk pertama kalinya dalam Ramadhan ini, dua anak laki-lakiku harus berangkat sholat Jumat tanpa “komandan utama” mereka.



✳️ Jumatan berdua saja

Biasanya, kalau ayahnya ada, mereka sholat Jumat di masjid besar di alun-alun kota. Masjid favorit. Jauh sedikit, tapi suasananya ramai dan “berasa”.

Tapi karena ayah sedang tidak ada, pilihan jadi lebih realistis.

“Jumatan di masjid ujung jalan aja ya,” kataku.

Masjid itu masih besar juga, hanya saja lebih dekat. Bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Atau… biasanya naik sepeda.

Aku pun bertanya santai, “Mau naik sepeda atau jalan kaki?”

Mereka langsung menuju tempat sepeda.

Beberapa detik kemudian…

“Ma… bannya kempes.”

Aku menghela napas.

Dicek satu. Kempes.

Dicek yang satunya lagi… kempes juga.

MasyaAllah. Kompak sekali.

Mungkin karena sudah lama tidak dipakai. Atau mungkin memang ini bagian dari skenario Ramadhan hari ke-22.


🌞 Panasnya Bukan Main

Beberapa hari ini memang panasnya luar biasa.

Panas yang bikin kita mikir dua kali untuk keluar rumah.

Panas yang bikin bayangan minum es teh manis muncul tiap lima menit.

Jadi ketika sepeda tidak bisa dipakai, anak-anak langsung menatapku dengan penuh harap.

“Ma… dianter aja pakai motor ya?”

Nada suaranya penuh permohonan.

Aku melihat ke luar. Matahari sudah mulai menunjukkan kekuatannya.

Akhirnya aku mengalah.

“Ya sudah, Mama anter.”

Dua wajah langsung cerah.


🏍 Motor Ngambek

Aku mengambil kunci motor dan mengeluarkan motor.

Anak-anak sudah siap di belakang.

Aku menyalakan mesin.

Hidup.

Alhamdulillah.

Aku mulai jalan pelan.

Baru beberapa meter keluar dari rumah…

“Brekkk…”

Motor mati.

Kami bertiga diam.

Aku coba nyalakan lagi.

Hidup sebentar.

Lalu… mati lagi.

Suasana hening beberapa detik.

Lalu terdengar desahan panjang dari belakang.

“Yaaahh…”

Aku menahan tawa.

Ini seperti skenario yang sudah ditulis rapi.

Sepeda kempes.

Motor mogok.

Lengkap sudah.


😌 Jalan Kaki, Solusi Paling Realistis

Aku menoleh ke belakang.

“Maaf ya, kayaknya memang kalian harus jalan kaki.”

Si sulung langsung nyengir.

“Biar banyak pahala ya, Ma?”

Aku mengangguk serius. “Iya dong. Kan hitungannya per langkah.”

Si bungsu ikut tertawa, walau sedikit terpaksa.

Akhirnya mereka turun dari motor.

Dengan ekspresi campur aduk antara pasrah dan menerima takdir, mereka mulai berjalan ke arah masjid.

Baru beberapa langkah, mereka menoleh.

“Terus Mama gimana?”

Aku melihat motor yang mogok dengan pasrah.

“Mama dorong aja pulang. Kan dekat. Baru tiga rumah juga.”

Mereka tertawa.

“Semangat ya, Ma!”

Aku hampir ingin jawab, “Tukar posisi yuk?”

Tapi ya sudahlah.


🏳 Jalan ke Tujuan Masing-Masing

Akhirnya kami berpisah di depan rumah tetangga.

Anak-anak berjalan ke masjid.

Aku berjalan sambil mendorong motor kembali ke rumah.

Kalau dipikir-pikir, ini juga olahraga.

Lumayan.

Puasa-puasa, dorong motor.

Level latihan naik.

Sesampainya di rumah, aku langsung duduk sebentar, mengatur napas.

Lalu mengambil HP dan mengirim pesan ke ayahnya.

“Motor mogok. Anak-anak akhirnya jalan ke masjid.”

Tak lama kemudian dibalas.

“MasyaAllah. Semoga pahalanya berlipat.”

Aku tersenyum.

Memang benar.

Hari itu mungkin tidak berjalan sesuai rencana.

Tapi justru di situlah ceritanya.


🌸 Ramadhan Hari ke-23: Mie Instan yang Jadi Andalan

Tak terasa, Ramadhan sudah masuk hari ke-23.

Artinya, energi mulai turun.

Ide masakan mulai menipis.

Dan semangat dapur mulai… ya, kita bilang saja… butuh libur.

Sudah dua hari ini, setiap sahur, aku memasukkan mie instan ke dalam menu.

Iya. Mie instan.

Menu yang sederhana, cepat, dan—jujur saja—selalu berhasil menarik minat anak-anak.


🍽 Strategi Ibu Saat Sahur

Aku memperhatikan sesuatu.

Kalau ada mie instan di meja, anak-anak makan lebih banyak.

Nasi habis. Lauk disentuh. Bahkan kadang nambah.

Padahal kalau tanpa mie instan?

“Males makan, Ma…”

Aneh memang.

Padahal dua-duanya sama-sama mengenyangkan.

Tapi mie instan punya daya tarik yang sulit dilawan.


🍜 Satu Bungkus untuk Bertiga

Tapi tentu saja, sebagai ibu, aku tidak mau berlebihan.

Makan mi instan terlalu banyak atau terlalu sering tidak baik untuk tubuh kita. 

Jadi aku punya strategi sendiri.

Aku hanya memasak satu bungkus mie instan.

Untuk bertiga.

Iya. Bertiga.

Ayahnya masih di luar kota, jadi sahur kami bertiga saja.

Mie instan itu aku bagi rata.

Ditambah sayur sedikit. Kadang telur. Kadang hanya kuahnya saja yang dibagi-bagi.

Yang penting ada “rasa mie instan”.

Dan itu sudah cukup membuat mereka semangat makan.


💕 Reaksi Anak-Anak

Saat mie instan disajikan, reaksinya selalu sama.

“Wah, ada mie!”

Padahal cuma satu bungkus.

Si bungsu biasanya langsung mengambil posisi strategis.

“Ma, bagi yang adil ya…”

Si sulung menimpali, “Yang banyak buat abang lah.”

Aku langsung memotong.

“Yang banyak buat Mama.”

Mereka tertawa.


📌 Antara Praktis dan Rasa Bersalah

Jujur saja, ada sedikit rasa bersalah.

“Dua hari berturut-turut mie instan…”

Tapi aku juga belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.

Ini bukan soal sempurna atau tidak.

Ini soal menjaga ritme.

Menjaga energi.

Karena jadi ibu di bulan Ramadhan itu bukan cuma soal masak.

Tapi juga soal bangun sahur, menjaga suasana, memastikan anak-anak tetap semangat puasa, dan tetap bisa tertawa di tengah lelah.


🎈 Ramadhan yang Tidak Sempurna, Tapi Penuh Cerita

Dari motor mogok di hari ke-22, sampai mie instan di hari ke-23, aku belajar satu hal.

Ramadhan tidak harus selalu sempurna.

Tidak harus selalu sesuai rencana.

Kadang justru cerita terbaik datang dari hal-hal kecil yang tidak berjalan mulus.

Dari sepeda yang kempes.

Dari motor yang mogok.

Dari langkah kaki menuju masjid di bawah panas matahari.

Dari semangkuk mie instan yang dibagi bertiga.

Dan dari tawa kecil yang muncul di tengah semua itu.

Mungkin suatu hari nanti, anak-anak tidak akan ingat detail menunya.

Tapi mereka akan ingat…

Bahwa pernah ada hari Jumat mereka jalan kaki ke masjid karena semua kendaraan “kompak” tidak bisa dipakai.

Dan mereka akan ingat…

Bahwa pernah ada sahur dengan mie instan sebagai pembangkit selera makan yang satu bungkus dibagi bertiga, tapi terasa hangat.

Karena pada akhirnya, yang paling melekat bukanlah kesempurnaan.

Tapi kebersamaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar