Bismillah...
Kali ini aku mau cerita soal hal-hal baru yang aku temui dan rasakan pasca hijrahku ke Pekalongan.
Fyi, sejak pertengahan Juni 2024, aku dan keluargaku memutuskan untuk hijrah ke Pekalongan.
Tentu ada perbedaan antara tinggal di Pekalongan dan Medan. Membuat saya kadang lucu, kadang ternganga, bengong hihi. Berikut cerita saya.
![]() |
| Sumber foto: website https://cjip.jatengprov.go.id/detail-kabkota/kota-pekalongan |
Waktu dan pelaksanaan sholat
Di sini, jarak antara adzan di tiap-tiap waktu sholat dan pelaksaan sholatnya sendiri, itu terlalu lama menurut saya. Rata- rata hampir setengah jam sendiri jarak waktunya. Pernah pas nungguin anak latihan futsal, masuk waktu ashar. Karena dekat tempat futsalnya ada masjid. Saya pun buru-buru ke masjid, niatnya ikut sholat berjamaah.
Sudah saya tunggu lama, kok sholat berjamaahnya gak mulai-mulai juga. Apa takda sholat berjamaahnya?
Ya sudahlah saya sholat sendiri saja. Karena latihan futsal anak-anak sudah hampir selesai.
Baru aja saya mengakhiri sholat dengan salam. Eh imamnya qomat.
Dan ini terjadi juga di masjid-masjid dan musholla-musholla di dekat tempat saya tinggal.
Saf sholat
Tentang saf sholat. Saya ndak tau ya kalau di saf laki-laki. Tetapi, di saf perempuan, saf-safnya sangat jarang alias ga rapat. Sedangkan yang diajarkan pada saya dan ditanamkan sejak anak-anak dan memang seperti itu adanya, kalau sholat berjamaah di masjid (di Medan), pasti imam akan menghimbau terlebih dahulu agar para makmum baik laki-laki atau perempuan agar merapatkan saf. Dan memang saf akan sangat rapat. Antar bahu para makmun akan bersentuhan.
Sedangkan di sini, saf-safnya jarang banget. Bisa kali dua orang makmum masuk diantaranya. Pas saya bergeser ke samping kanan untuk merapatkan saf, eh orang di samping kanan saya malah geser lagi. Jadi renggang lagi safnya. Udah gitu orang di samping kiri cuek aja gak mau rapatin saf ke saya yang udah bergeser.
Trus, Kan ada sajadah khas masjid yang melebar itu lho. Satu orang satu sajadah ada kali yang pake. Pokoknya safnya jarang-jarang ndak rapat.
Bahan makanan - Ikan
Ini agak culture shock juga buat saya. Di sini ikan yang saya kenal sangat terbatas, udah gitu namanya juga berbeda walau ikannya sama kayak di Medan.
Dan banyak juga ikan yang baru aja saya kenal, saya liat bentuknya beda. Mungkin ikan di laut Sumatera dan di laut Jawa beda suku.
Dan sepertinya ikan di sini kok bikin saya alergi, gatal dan bentol di kulit. Padahal di Medan kami lebih sering mengkonsumsi ikan daripada ayam dan daging. Saya agak galau soal ini. Aneh rasanya ga makan ikan tiap hari.
Bahan makanan - sayuran.
Sayuran hijau di sini adanya kangkung, sawi, bayam. Itu yang always exist. Terkadang ada juga sawi botol, selada air (kalau dimedan namanya daun paret). Tapi agak jarang sih. Kalau seperti brokoli kembang kol (kubis), dan kubis itu sendiri banyak. Sayuran hijau yang jarang.
Eh pernah sekali saya dapat genjer di pasar. Murah cuma seribu seikat. Satu ikat banyak banget.
Saya pernah tanya tukang sayur langganan, apa sayur pakis gak ada yang jual di pasar? Di sini gak dimakan ceuna, yang kriwil melingkar itu kan? Tanyanya lagi.
Pecal & Lotek
Saya hijrah ke sini sudah lebih 1.5 tahun ketika tulisan ini saya ketik. Dan saya ga nemu satu pun orang jual pecal. Padahal di Medan, yang jual pecal itu pasti orang jawa, dan selalu enak.
Di sini kan sarangnya orang Jawa, kenapa gak ada yang jualan pecal? Huaaaaa... Saya rindu pecal.
Pernah mertua saya bilang, ketika dia metik sayuran dari kebun kecilnya. Ini mau ibu pecal, katanya. Wah excited aku tu. Tapi pas jadi pecalnya ga seperti yang aku bayangkan.
Pecal, kalau di Medan, adalah beberapa macam sayuran yang direbus kemudian disiram dengan kuah atau bumbu kacang, ya kan? Nah yang dibuat mertuaku ga tau apa.
Trus, ikan juga katanya dipecal. Ada juga yang dilotek. Dan keduanya tak seperti bayanganku. Tak seperti lotek dan pecal di Medan hiks.
Sebenernya pecal dan lotek itu di sini apaaaaaa? Aaaaaaa......... *jambak-jambak rambut sendiri*.



Hahaha. Ya Allah Lucu kak.
BalasHapusCobalah mereka suruh jajan pecal di medan. Pasti ketagihan. Hahaha
Kak Vivi culture shock ya..memang tiap daerah punya keistimewaan masing-masing ya. Semoga segera bisa menyesuaikan diri. Semangat!!
BalasHapusPerihal azan, kalau di Kediri (Jatim) disesuaikan dengan jam orang ke sawah, karena jadi patokan mereka pulang. Maka, bukan pas jam Ashar (misalnya) tapi jam 4 sore baru azan. Dst
Tentang pecel, yang ada banyak di Kediri, Madiun ada warung pecel, dan di rumah biasa nyetok bumbu/sambal pecel, bukan seperti di Medan yang dibikin langsung bumbu pecalnya (sebagai orang yang pernah tinggal di Pangkalan Brandan saya tahu pecal ala Medan ini), kalau di Pekalongan saya enggak tahu, sepertinya memang bumbu/sambal pecel itu adanya di Kediri, Blitar, Madiun..dan sekitarnya
Culture shock banget ya, mba. Setahu saya, pecel jawa itu campuran sayuran hijau ditabur bumbu kacang. Kalau saya karen orang sunda, pecel itu adalah pecel ayam 😅
BalasHapusKalo di medan pecal itu enak mbaaaa. Bumbunya mantabb. Pecal sayur ada, pecal ayam dan lele juga ada
HapusYa ampuuunn mbaaa... kebayang gimaan adaptasinya ketika di Pekalongan. Btw, kalau pecal sama pecel mirip gak ya? jadii kalau pecel kan sayuran dikasih bumbu kacang gitu. mgkin pecal di pekalongan lebih mirip penyetan gitu sih mbak, menurutku. Cuma aku sendiri pun heran kok di Pekalongan ga ada pecel ya? seharusnya di Jawa itu ada orang jual nasi pecel gitu sih meskipun bukan khasnya ya. Pecel kan khasnya dari Jawa timur. yukkk mbak, kapan kapan main ke Surabaya yaaa... aku temenin kulineran (maria tanjung sari)
BalasHapusNgikik sendiri baca tulisan kak vivi, auto inget aku yg culture shock pertama kalinya anak Medan kuliah di Jogja dulu. Nyicipin sayur bayem buatan ibu temanku, lha kok manis, biasanya di Medan org rebus atau tumis bayam itu dikasih garam biar gak hambar, hihihi. Indahnya berbaur ya, Kak 👍
BalasHapusAih inilah yg gak sempat didatangi tempat kk fi tinggal di Jawa itu emg semenyenabgkan itu ya kk banyak pilihan menu ikan utk masak hehe keren lah bisa pindah2 kota terus bisa beradaptasi di lingkungan manapun di Indonesia
BalasHapus