Saat itu, dan Saat Ini pun, Saya Bahagia


Saat ini saya adalah seorang istri yang juga ibu dari tiga orang anak lelaki yang hebat. Bahasa kerennya itu full time mom.
Baru-baru ini saya menemukan sebuah kalimat pendek di aplikasi parenting di ponsel saya, yang membuat saya terharu. Kata-kata itu adalah; Saat itu, dan saat ini pun, aku Bahagia.

Saya kemudian mulai berfikir, apakah saya termasuk ibu yang merasa kehilangan identitas diri sebagai wanita, terutama setelah saya melahirkan dan fokus mengasuh anak setiap hari?
Apakah saya bahagia? 





Dulu, Ketika saya masih seorang gadis kecil, saya adalah gadis kecil yang bahagia, bermain bersama adik-adik dan teman-teman. Memainkan berbagai macam permainan tradisional; main engklek, main karet, main ayunan, dengan gembira, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tidak ada beban sebagai seorang gadis kecil dan juga gadis remaja.

Beranjak dewasa pun begitu. Bersama saudara perempuan saya dan ibu kami, terkadang bersama teman juga, melakukan hal-hal menyenangkan bersama; ke salon, window shopping ke mall, semua pernah dilewati. Senang, Bahagia, tidak ada beban, tidak ada yang dikhawatirkan.

Lalu, saya mulai berkaca di cermin. Melihat pantulan diri sendiri saat ini, dengan daster buluk, rambut diikat sekenanya, tanpa bedak, lipstick, skin care-an jangan ditanya kapan terakhir, kadang baru aja masker kecantik'an itu terpasang, sudah ada panggilan sayang terdengar hihi.

Kegiatan rutin saya, selain memasak adalah berbelanja, berbenah, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Yang walaupun begitu, tetap saja rumah kami jarang sekali rapi.
Terkadang merasa gagal juga, tidak bisa memberikan rumah yang bersih dan nyaman ketika suami pulang dari bekerja.
Beliau yang capek pasti lebih menginginkan rumah yang rapi, bukan berantakan seperti yang selama ini sering terjadi.

Tetapi Alhamdulillahnya, suami mau memakluminya dan mau membantu pekerjaan di rumah kami yang tidak ada habis-habisnya ini. Yah, namanya saja kami punya dua  balita dan satu anak lelaki berusia 8  tahun.
“Lebih baik memiliki rumah yang bahagia, daripada cuma sekedar bersih saja”, ini adalah kata-kata penghiburan yang sering saya ucapkan ke diri sendiri hehe.

Ketika saya merasa down sebagai seorang wanita, saya mengingat 3 hal dan berusaha menerapkannya dikeseharian saya.

Pertama, setiap hari saya melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri, yang paling sering itu menulis di blog, atau main game di ponsel saya, membaca tulisan di blog teman-teman, membaca buku, dan sebagainya. Saya melakukan semua itu ketika anak-anak sedang tidak membutuhkan perhatian saya. Alhamdulillah ayahnya sering bermain bersama mereka agar saya punya waktu untuk ber me time ria.

Kedua, saya berhenti menilai diri saya sendiri.
Saya hanya bertekad, saya akan fokus menjadi ibu yang bahagia, bukan ibu yang sempurna. Tidak ada orang yang bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya selain papa dan mamanya kan.

Ketiga, saya tidak boleh memaksakan diri harus sempurna, baik dalam pengasuhan maupun pekerjaan rumah tangga, tidak boleh bosan untuk berusaha melakukan apa yang saya bisa sebagai seorang ibu dan istri. Walaupun untuk itu, hanya Satu Persen harapan saya dapat melakukan semua me time saya di atas. 




Anak-anak membutuhkan ibu yang bahagia untuk bisa tumbuh dengan bahagia juga. Mereka selalu membuat saya bahagia, karena mereka adalah semangat hidup saya.

Dulu saya bahagia, dan sekarang pun saya amat sangat bahagia. 
  Saat itu, dan saat ini pun saya Bahagia.


Salam
Vivi
LinRana Mom

15 comments:

  1. Ingin bahagia selalu rasanya menyenangkan. Namun saya juga tidak bisa memastikan esok akan merasakan kebahagian. Eh, baru saja bahagia.

    ReplyDelete
  2. ibu bahagia, yang lain ikut bahagia😁

    ReplyDelete
  3. Terima kasih kak. Referensi buat saya jika kelak menyandang gelar ibu.

    ReplyDelete
  4. Kak setiap kita hanya manusia yg bnyk salah, kesempurnaan hanya milik Allah, yuk bahagia sama2 di blogsum hehe

    ReplyDelete
  5. Kalau saya, Kita Harus bahagia, itu yg sering saya hastaqkan hehe. Maksdnya kl lg ga bahagia, ayuk berjuang lagi buat bahagia hehe

    ReplyDelete
  6. bah mana komen ku yang sok bijak tdi? tetiba ilang. hahaha.
    yg pasti memang sebelum membahagiakan org lain, kita harus bahagia lebih dulu. ��

    ReplyDelete
  7. Bener banget kak, anak-anak itu gak butuh bu yang sempuna tapi lebih butuh dengan ibu yang bahagia.

    ReplyDelete
  8. Bagus juga ada sugesti seperti ini ya Mom, “Dulu saya bahagia, dan sekarang pun saya amat sangat bahagia” jadi gak ada peluang pikiran gak bahagia masuk ke diri kita yaa

    ReplyDelete
  9. Tengkyu remindernya kak.
    Kadang susah bagi awak ini yang agak perfeksionis untuk mencoba nurunin standar .
    Akhirnya awak inget "stay happy" ini ya

    ReplyDelete
  10. Setuju kak kalau Kita bahagia insyaallah sekeliling Kita gak Kita suntuk'i ya kak

    ReplyDelete
  11. Setuju kak, jangan menilai diri kita sendiri dengan orang lain karena setiap orang passion bahagianya. Sebagai full time mom saya juga pernah merasakan hal itu, tapi sekarang sudah berdamai dg diri

    ReplyDelete
  12. Intinya harus tetap positif ya kak, secara anak2 kan tetap butuh mamak yg moodnya selalu terjaga

    ReplyDelete
  13. Bahagia muncul saat kita mau bersyukur. Tapi memang kalo saat kita punya innerchild yg belum selesai, susah juga buat bahagia

    ReplyDelete
  14. Kebahagiaan kita bisa menular ke org2 di sekitar Kita. Jadi berusaha utk tetap bahagia, walaupun bukan yang sempurna.

    ReplyDelete
  15. jangan lupa kak, peran sbg perempuan, ibu, dan istri. kadang kita lupa peran sbg perempuan biasa yg harus istirahat, punya mental yg sehat, disamping mnjd ibu dan istri dirumah. semangat terus kak vivi!

    ReplyDelete