Parenting Blogger Medan: Drama Perjalanan Keluarga Kami Menuju Denpasar

Assalammualaikum wr wb,


Tak terasa, saya dan keluarga sekarang sudah berkumpul kembali dan hijrah ke Kota Denpasar, Bali.

Siapa yang menyangka, saya ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa untuk merasakan hidup di Denpasar.

Saya ingin berbagi cerita tentang ‘drama’ kami bertiga (saya dan kedua putraku) dalam perjalanan kami menuju Denpasar, ke tempatnya ayahnya yang sudah lebih dulu berada di sana.


Kami hijrah dari Kota Medan ke Kota Denpasar pada Bulan Juni 2021. Kami berangkat tanggal 19, dengan menggunakan penerbangan City Link.

Dari malam sebelum keberangkatan, saya dan kedua anak saya (umur 9 dan 4.5 tahun) memutuskan bersama untuk tidur lebih awal, agar besoknya bisa bangun lebih pagi dari biasanya untuk bersiap-siap. Karena direncanakan kami bertolak dari rumah menuju airport itu pukul 6.30 pagi, dan penerbangan kami pukul 9.35 pagi.


Pukul 4 pagi, saya pun bangun, untuk bersiap-siap. Saya sempatkan mencuci agar tidak meninggalkan pakaian kotor. Dan menyiapkan selimut-selimut dan sprei yang akan diantarkan ke laundry, (udah janjian sama kakak yang kerja di laundry, supaya beliau sudi membuka tempat laundrynya lebih pagi dari biasanya, paling gak cucian saya untuk hari itu tolong diterima hehe).

Kemudian mengangkat koper-koper yang isinya padat dan beratnya minta ampun, dari lantai atas ke garasi mobil di lantai bawah.

Wihhh .. pokoknya tepar sebelum berangkat lah… Ada tiga koper yang padat dan berat. Belum lagi printilannya, seperti ransel yang berat juga, ada dua buah, satu tas koper kecil tempat surat-surat berharga keluarga, seperti kartu keluarga, akte, ijazah, dan lain sebagainya. Yang saya bawa alias ditenteng sendiri.


Pukul 4.30 pagi, saya membangunkan si sulung untuk segera mandi, sambil masak air untuk mandi si bungsu (permintaan beliau, mandi air hangat karena kepagian).

Alhamdulillah anak-anak mandi dan berpakaian dengan tertib. Mungkin karena sudah sepakat malamnya ya..

Pukul 6, saya mendapat informasi dari City Link bahwasannya pesawat kami delay ke pukul 11.40 wib. Otomatis berangkat dari rumah pun diundur juga. Yang tadinya direncanakan pukul 6.30 wib menjadi pukul 8.30 wib.

Anak-anak yang sudah sangat excited mau berangkat jadi merengek untuk tetap berangkat pukul 7.30 wib.

Tapi tetap saja kami berangkat dari rumah pukul 8.30 wib.

Pukul 9.30 lebih kurang, kami tiba di airport Kuala Namu Medan.

Dan si sulung lupa pakai sandal.

WHAT?????!!!!

IYA LUPA PAKAI SANDAL.

KOK BISA?


Heheheh … tu lah.. emaknya ini ya pengen ketawa, pengen nangis, pengen marah. Campur-campur.

Jadi begini, mobil yang terletak di garasi rumah ibu saya itu, menyatu sama ruang tamu. Jadi kebiasaan memang, anak-anak kalau mau pergi naik mobil, naiknya itu yang dari dalam rumah, yang membuat mereka sering lupa pake alas kaki.

Biasanya saya rajin mengingatkan soal sandal ini. Tapi mungkin karena pagi itu cukup crowded, saya lupa nereakin soal sandal.

Dan jadilah si sulung lupa dengan sandalnya.

Pas kita diturunkan di airport sebelum mobil parkir; menurunkan semua barang-barang, dan menurunkan anak-anak, baru de ketahuan kalau si sulung sandalnya ketinggalan.

Emaknya berulang kali inhale exhale. (pas kami mudik ke pekalongan awal tahun 2021, dia lupa kacamatanya).

Akhirnya ditemani tantenya, mereka ke mini market yang ada di airport Kuala Namu, buat beli sandal.

Alhamdulillah sandalnya tersedia. Cuma ya itu, adanya sandal jepit, dan ukurannya ukuran orang dewasa. Apa boleh buat. Dipakai lah apa yang ada.


Dan saya?

Saya pun sibuk tak menentu. Sendiri mengangkat koper-koper yang super berat itu dari troli ke tempat pemeriksaan barang (apa tuh namanya, yang X-ray itu lho), habis itu angkat lagi dari X-ray kembali ke troli.

Dorong lagi troli barang-barang kami itu ke tempat pemeriksaan surat bebas covid. Terus dorong lagi trolinya ke counter City Link untuk memasukkan koper-koper tersebut ke bagasi.


Alhamdulillah lagi, semuanya sejauh ini lancar, kalaupun ada kendala, semua masih dapat diatasi.

Yang berat itu adalah, jarak dari pemeriksaan surat covid ke counter City Link itu lumayan jauh. Tapi saya masih semangat, masih pagi, energi masih banyak, belum terasa capeknya. Alhamdulillah ada ibu saya yang mengawasi anak-anak, sehingga saya tidak khawatir melesat ke sana ke mari.

Setelah duduk sebentar dan ngobrol sama ibu, adik-adik dan ponakan, tepat satu jam sebelum keberangkatn pesawat, saya pun pamit untuk masuk ke ruang tunggu pesawat, setelah bersalam-salaman dan ber-dadah-ria.





Di airport Kuala Namu Medan.
Selfie dulu sebelum berangkat.
Buat kenang-kenangan

Sesampai di ruang tunggu, ternyata delay pesawatnya diberi bonus, alias diperpanjang, menjadi jam 12.10 (tadinya 11.40).

Dan beberapa saat kemudian, diperpanjang lagi delaynya, meriah kan..? hehe

Udah berapa kali delay itu?
Saya pun udah gak tau lagi jam berapa kami disuruh masuk pesawat. Alhamdulillah dikasi makan siang sama City Link, menunya spageti yang ada kerupuknya hehe. Lumayan enak sih, tapi lucu pake kerupuk.

Saya udah gak tau lagi tiba di Jakarta itu jam berapa, mungkin sekitar setengah tiga. Dan jarak dari terminal kedatangan ke terminal keberangkatan berikutnya pun jauh sekali. Mana troli habis lagi… wuaaa beurat… ransel dan koper kecil, belum lagi spageti dari City Link yang belum dimakan satu kotak lagi (kami dapat tiga kotak). Terus ada tas kecil tempat cemilan anak-anak.

Di counter City Link, saya nanya ke bapak petugasnya, dengan menunjukkan tiket saya. Terus beliau bilang penerbangan saya melalui Gate 18, pas saya cek di televisi yang menampilkan list keberangkatan pesawat, ditulis di keterangannya, gate 18 berangkatnya tepat waktu.

Wahhh saya langsung panik, karena kami delay lama di Medan, masak pesawat di Jakarta sini tepat waktu sih... Ya Allah...

Bertiga dengan anak-anak, kami pun berlari menuju ke gate 18 yang masih jauh dari tempat kami panik sekarang ini.

Tiba di gate 18 dengan ngos-ngosan, saya pun ke counternya, dan tidak ada petugas di sana. Tapi ada televisi lagi yang menampilkan bahwa penerbangan ke Denpasar, akan dilaksanakan sekitar setengah jam lagi.

Kami bertiga pun duduk di ruang tunggu dengan lega dan masih ngos-ngosan. 

Karena masih ada cukup waktu, anak-anak pun jajan roti yang dijual di dekat gate 18.

Di jam yang telah ditentukan, tujuan Denpasar belum juga dipanggil untuk masuk pesawat. Cek sekali lagi ke televisi, ternyata jamnya mundur lagi setengah jam dari yang tadi. Delay lagi...

Pas saatnya tiba, penumpang pesawat ke Denpasar pun dipanggil. Kami bertiga pun masuk ke dalam antrian. Kami dapat antrian di belakang, lumayan panjang antriannya.

Tak berapa lama, tibalah giliran kami. Agak lama juga petugasnya memeriksa tiket dan tanda pengenal kami. Dia bolak-balik ke meja sebelahnya. Dan ternyata…..

Kami salah gate manteman… 

Ya Allah. 

Memang sama-sama tujuan Denpasar, tapi gate saya bukan di situ. Dan nomor penerbangan saya di gate 18 ini dengan gate 23 (kami ternyata harusnya di gate 23) adalah 3 angka yang dibolak-balik, alias nomer penerbangannya mirip. Antara 668 dan 686. Pantesan bapak petugas di counter pertama city link yang di bawah siwer matanya.

Hadeuhhh…

Dan kami bertiga pun kembali berlari ke gate 23, yang jauh juga dari gate 18. Sampai di counter 23, pun tak ada petugas yang stand by yang bisa ditanya. Saya pun kembali merujuk ke informasi yang ada di televisi. Saya benar-benar menjaga kesiweran mata saya supaya tak salah nomor lagi.

Setelah dirasa betul itu nomor penerbangan kita, saya lega, kami gak telat. 
Kami pun mencari tempat duduk di ruang tunggu. Anak-anak juga sempat memakan makanan yang tadi dibeli di dekat gate 18, yang belum sempat dimakan karena keburu disuruh lari. Rencana tadinya rotinya mau dimakan di pesawat.

Dan untuk mengurangi tentengan alias bawaan, spageti yang sisa satu kotak lagi, pun saya makan, padahal saya belum lapar.

Alhamdulillah, anak-anak sudah bisa diajak lari-larian. Patut disyukuri kan. Coba masih baby dan harus digendong, dengan bawaan printilan yang banyak, bisa-bisa tepar di tempat emaknya. Akan tetapi, kalaupun teman-teman melakukan perjalanan bersama baby, ada tips cantik yang bisa dijadikan referensi di link 
dengan spesifikasi linknya sila klik

Nah kita lanjutin ceritanya ya... Waktu penerbangan masih ada sekitar setengah jam lagi di gate 23 ini. 

Dan.... kami ganti gate lagi tanpa diumumkan.

Coba de

Info ganti gate itu didapat dari mulut ke mulut. Saya mendengarnya dari calon penumpang yang kebetulan duduk di sebelah saya.

Alhamdulillahnya, gate barunya gak jauh, hanya pindah ke gate sebelah.

Akhirnya, dengan perjuangan darah dan air mata (heheheh lebay dikit), kami pun duduk di pesawat menuju Denpasar dengan lega dan nyaman. Dan tak menunggu lama pesawat juga segera take off.

Begitu pesawat take off, kami bertiga pun tertidur sampai pesawat tiba di Denpasar. Sepertinya kami bertiga kecapekan tingkat dewa. Eh, ada sekali saya dan si sulung terbangun karena beliau minta dianterin ke toilet.

Kami tiba di Denpasar, seharusnya pukul 5.30 sore, menjadi sekitar pukul 8 malam waktu Denpasar .

Dan seharusnya dari medan kami berangkat pukul 09.35 menjadi hampir pukul 1 siang.

Hal yang saya sadari kemudian tentang anak-anak adalah, bahwa ternyata mereka sudah besar dan sudah bisa diandalkan. Bahkan mereka menenangkan saya ketika saya panik. Sungguh suatu kemajuan yang membahagiakan saya sebagai ibunya. Dan dengan bangga menceritakan hal ini kepada ayahnya.

Sekarang kami sudah tiba di sini, di Denpasar. Berkumpul dengan ayahnya anak-anak.

Dengan Bismillah, kami menyongsong kehidupan baru kami. Hijrah kami. Berharap kehidupan keluarga kami lebih baik lagi di sini, baik lahir maupun batin.




Setelah perjalanan penuh perjuangan,
akhirnya kami sekeluarga sudah berkumpul lagi,
dan menikmati kebersamaan





Terimakasih yang sudah membaca tulisan saya yang ternyata panjang juga ya…
Maafkan tidak banyak foto yang bisa saya share, karena sibuk lari-larian, gak kepikiran buat ambil foto.

Salam




Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Competition yang diselenggarakan oleh https://www.ibupedia.com/ dan kategori tulisan yang dipilih adalah kategori 'family'.

23 komentar:

  1. saya belum pernah pindahan sih mbak dari satu kota ke kota lainnya tapi saya bayangkan seru kali ya. Walau mungkin ribet harus ngepak ngepak barang tapi ada pengalaman berharga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barang-barang pindahan kami juga tidak banyak. Hanya box dan kardus yang isinya peralatan dapur dan pecah belah lainnya, buku-buku, dan juga perkaianan yang gak cukup di koper. seperti sprei, dan sisa baju-baju. sepeda anak.

      Hapus
  2. Ya ampun, tegang bacanya Mbak Vivi ... kebayang kalo ada di posisi Mbak Vivi .. apa yang terjadi padaku?
    Alhamdulillah teratasi semua ya. Terus beli sandal buat si kakak di mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di mart yg ada di airport medan mba..

      Hapus
    2. Hahaha. harganya pasti berkali lipat ya kak vi..
      Kebayang air minum aja bisa berkali lipat..

      Hapus
  3. Ya Allah seru dan pasti kalau saya pengen ngakak pas lihat anak gak pakai sendal.

    Alhamdulillah sekarang udah di Bali ya.

    Dulu tahun 2018 saya juga pernah ngalamin drama gitu saat mau ke Bali juga. Hadeuh gak rajin kaya Mbak saya menuliskan. Hehehe

    BalasHapus
  4. Wah seru sekali, aku juga sering pindah2 kota nih ikut suami, namun Alhamdulillah masih 1 pulau jadi gak riweh. Selamat merantau di Bali ya Mba.

    BalasHapus
  5. Ya ampun mbak. Aku bisa bayangin crowdednya pagi itu. Kemarin aku cuma nyiapin barang2 suami tugas ke kalbar aja ribetnya ya ampun, barangnya banyak. Harus gotong koper dr lantai 2 ke garasi. Untung ada suami, ini mbak keren banget perjalanan dg anak2. Daan untung anak2 ga rewel meski sandalnya ketinggalan ya mbak. Plus lari2an ke gate yg salah. Hhh
    Sehat dan bahagia terus di Bali mbak😍

    BalasHapus
  6. Baliii...Alhamdulillah sudah berkumpul semua. Semoga semua sehat dan makin bahagia.Aamiin
    Ya ampun kebayang rempong Mamak ya...anak ga pake sendal, salah gate pulak!
    Yang penting dah di Bali ya Mbak Vi....aku jadi kangen Bali nih. ditunggu cerita lainnya

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah Mba Vi, sampai juga dengan selamat. Semoga betah ya mba sekeluarga, terutama anak-anak bersekolah di sana.

    Aku dulu pas pindah ke Bali juga drama mba. Soalnya tas kamera DSLR suami ketinggalan di counter check in. Dia lupa bawa coba. Hadeeeh. Kita baru nyadarnya pas udah duduk manis dalam pesawat. Wiiii, pengen nangis rasanya waktu itu, soalnya foto-foto baru nikahan ada di sana.

    Kita akhirnya lapor pramugari, dan gerak cepat mereka hubungi ke bawah, eeeh alhamdulillah balik lagi mba kamera suami.

    Pernah juga pas bawa bayi abis mudik. Pas kita udah mau boarding nih, tiba-tiba Kakak Mae kebelet mau BAB dan dia gak mau BAB di pesawat, maunya di bawah. Wkwkwk, haduuuh itu lagi tuh dramanya. Jadinya kita penumpang paling terakhir yg masuk pesawat.

    BalasHapus
  8. Naik turun nafas baca tulisan kakak kali ini. Serius capek kali pasti seharian itu ya kak.
    Oh ya kak, btw kok cuma bertiga?
    Yang satu lagi anak kakak mana?

    BalasHapus
  9. Cukup ribet juga ya tapi kesdannya seperti itu kalo harus pindah kan. Seru dan menguras energi juga jadinya. Jadi pengalaman yang tak terlupakan

    BalasHapus
  10. Masya Allah, meski ribet, tapi seru lhoo, hehee.. pasti gak terlupakan ya mbak :)

    BalasHapus
  11. Ribet banget ya mbaaa pastinya. Tapi seru juga sib liatnya soalnya belum pernah ngalamin pindahan hehe

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah ikut senang baca kak vivi udah berkumpul bersama lg dengan suami tercinta di kota Denpasar. Ntar lagi Kak Vivi nyanyi Denpasar Moon... Shining on an empty street hehe... berkah hijrah di tempat yang baru ya Kak,,, jangan lupakan kami yg di Medan gak ada tanda2 mau bergerak ini ahaha

    BalasHapus
  13. Serunya yaa pergi bareng anak2 sampai si sulung ketinggalan sandal ya Kak haha.... jadi teringat pas kami keluar kota juga, pulangnya oleh2 malah ketinggalan di bandara keberangkatan, hiks

    BalasHapus
  14. Wah masyaAllah seru nih ya kakk. Stay safe yaa kak lin dan keluargaaa. Kangen dehh jalan2 kek gini

    BalasHapus
  15. Seru ya kak, paling kocak ketinggalan sandal haduh hahahha
    Tar kl kami denpasar kakak bs jd guidenya hehe

    BalasHapus
  16. Asiknya mau pindahan gini kak, pasti rame perasaan pun berdebar huru hara, sehat2 ya kak di sana nikmati tinggal menetap sambil liburan di Bali ya :)

    BalasHapus
  17. Astaga... Seru tapi ada lucu yg terselip juga. Wkwkw... Untung semua teratasi ya mbak

    BalasHapus
  18. Saya juga pernah denger mbak, kalau pindah gate itu bisa sewaktu waktu, jadi penumpang harus aktif bertanya bertugas.
    İtu cerita saya denger dari penumpang lion air

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo lion air jangan nanya mba...
      Koper saya pun pernah gak nyampe

      Hapus
  19. Kalau nggak ada cerita rupa-rupa gini, jadinya nanti nggak seru :D kebayang ikut lumayan capeknya, tp Alhamdulillah akhirnya hari itu terlewati ya. Tentunya jd kenangan nih :D

    BalasHapus